Tag Archive | MENGENAL DIRI

MENDENGARKAN

Mendengarkan adalah sesuatu yang amat sulit. Untuk dapat mendengarkan, dari kita dituntut suatu keyakinan batin bahwa kita tidak perlu lagi membuktikan kemampuan diri kita dengan berbicara, berargumentasi, atau dengan membuat pernyataan. Orang-orang yang mampu mendengarkan mempunyai kemantapan batin sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi membutuhkan pengakuan akan kehadiran mereka. Mereka bebas sehingga dapat mendengarkan, menerima, dan membiarkan orang lain masuk.

Mendengarkan bukan sekedar berarti membiarkan orang lain berbicara, sambil menunggu kesempatan untuk menjawab atau menanggapi. Mendengarkan adalah memberikan perhatian penuh kepada orang lain dan menerima mereka serta membiarkan mereka masuk ke dalam pribadi kita. Dengan sikap mendengarkan seperti itu, orang lain yang didengarkan mulai merasa diterima, menyadari makin mendalam kata-kata yang diucapkannya dan menemukan diri mereka yang sejati. Dengan sikap itu, kita mengundang orang asing untuk menjadi sahabat, mendorong mereka untuk mengenali diri pribadi mereka secara lebih penuh, dan bahkan lalu berani berdiam bersama kita. (Henri J.M. Nouwen, Bekal Peziarahan Hidup, Kanisius, 2003)

PERSAHABATAN dalam BAYANG-BAYANG HATI

Seperti tampak pada foto di samping, ketika matahari berada di sebelah timur atau barat, cahayanya yang mengenai tubuh akan membentuk bayangan tubuh kita.  Pada saat matahari tepat berada di atas kepala kita, bayangan itu tidak nampak.

Henri Nouwen, seorang pastor pencipta banyak karya tulis yang telah menginspirasi jutaan pembaca   memberikan satu renungan singkat namun bermakna sangat dalam. Renungan ini juga tentang bayangan namun bayangan yang dimaksud adalah bayangan hati. Mari kita renungkan bersama agar kita dapat semakin mensyukuri dan memaknai kehadiran seorang sahabat dalam hidup kita:

Dalam hati kita terdapat suatu wilayah bayangan. Kita sendiri tidak dapat melihat wilayah bayangan itu. Meskipun kita tahu banyak mengenai diri kita – kekuatan dan kelamahan, ambisi dan apresiasi, motivasi dan dorongan – namun sebagian besar diri kita tetap tinggal dalam bayangan kesadaran kita.

Ini adalah hal yang baik. Sebagian dari kita akan selalu tersembunyi bagi kita. Orang lain, khususnya orang-orang yang mencintai kita sering kali dapat melihat wilayah bayangan ini lebih baik daripada kita. Cara orang lain melihat dan mengenal diri lain dibandingkan dengan cara kita melihat dan mengenal diri kita sendiri. Kita tidak akan pernah menangkap sepenuhnya makna kehadiran kita dalam hidup sahabat-sahabat kita. Ini adalah rahmat. Rahmat ini tidak hanya mengajak kita untuk bersikap rendah hati, tetapi juga percaya kepada orang-orang yang mencintai kita. Dalam wilayah bayangan hati kita inilah persahabatan sejati lahir. (Henri J.M. Nouwen,  Bekal Peziarahan Hidup, Kanisius, 2003)

MENGENAL DIRI

Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mencintaiNya dan semakin kita mengenal diri sendiri, semakin kita rendah hati. Jika Anda rendah hati, tak akan ada sesuatu yang dapat menyentuh Anda, baik pujian maupun kritik, karena Anda tahu diri Anda sendiri. Jika Anda dipersalahkan, Anda tak kan kecil hati. Jika mereka menyebut Anda seorang suci, Anda tak kan merasa dipuja-puja.

Mengenal diri membuat kita berlutut dengan rendah hati.

(Bunda Teresa, Di Dalam Keheningan Hati, Marian Centre Indonesia, 2006, hal. 77-78)